Kisah Inspiratif Nadiem Makarim Membangun Startup Decacorn Gojek, Review Buku “Nadiem Makarim”
Mungkin belum banyak yang tahu, pada masa awal berdirinya di tahun 2010, Gojek belumlah menggunakan aplikasi digital seperti sekarang ini. Gojek pada awalnya adalah semacam perusahaan “call center” yang melayani pemesanan ojek motor.
Kantor “call center” ini didirikan oleh Nadiem dengan memanfaatkan suatu ruang garasi berukuran 5×7 meter di Jalan Kerinci, dekat Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Jadi ya, pemesanan ojek dilakukan oleh pelanggan dengan menelpon call center tersebut. Kemudian call center akan menghubungi tukang ojek yang telah menjadi mitranya untuk melakukan penjemputan dan mengantarkan pelanggan yang melakukan pemesanan.
Jadi begitulah awal mula operasional Gojek yang tertuang dalam buku “Nadiem Makarim, Cerita Masa Kecil, Jatuh Bangun Gojek, dan Pengabdian bagi Negeri” karya Ardi Darmawan, Mugi Artiningsih, Fanny A. Prasetya. Penerbit Andaliman Books, 2020.


Pada masa awal berdirinya Gojek, tentu saja Nadiem sendiri yang rutin melakukan pendekatan dan mengajak para tukang ojek di sekitar rumahnya di kawasan Jakarta Selatan untuk mau menjadi driver Gojek.
Nadiem Makarim rajin mengunjungi pangkalan-pangkalan ojek. Dengan berbekal rokok dan kopi hitam, ia nongkrong bareng dengan para tukang ojek, menjelaskan tentang bisnis Gojek dan mengajak mereka untuk mau bekerjasama menjadi mitra Gojek.
Pada akhirnya seorang tukang ojek bernama Mulyono tertarik untuk bekerjasama. Pria kelahiran 1969 yang akrab disapa “Pak Kumis” mungkin tidak akan pernah menyangka bahwa kelak dia akan menjadi sosok Legend di Indonesia. Ya, dialah sang driver pertama Gojek. Mitra Gojek nomor 01.

Pada bulan Agustus tahun 2010 handphone Mulyono berdering, rupanya dari call center Gojek yang memberikan orderan untuk mengantarkan seorang penumpang. Itulah orderan pertama Gojek sepanjang masa, mengantarkan seorang penumpang dari kawasan Pondok Indah menuju ke Menteng, dengan jarak sekitar 12 kilometer. Dan syukurlah semuanya berjalan dengan lancar.
Pengalaman unik berikutnya dialami oleh Mulyono. Ia diminta untuk mengantarkan paket dan makanan ke salah satu gedung tinggi di Jakarta. Meski Mulyono tinggal di Jakarta, namun seumur hidupnya ia belum pernah masuk ke dalam gedung tinggi, apalagi menaiki liftnya. Namun tentunya sikap profesionalisme harus tetap diutamakan, paket tersebut harus diantarkan kepada penerimanya.
Terbayang rasa canggung yang dialami oleh Mulyono pada saat itu. Ia mungkin clingak-clinguk kebingungan pada saat pertama kali memasuki gedung megah Jakarta, dan mungkin juga kebingungan, atau malah agak panik, saat pertama kali tubuhnya masuk ke dalam kotak lift.
Namun syukurlah semuanya dapat berjalan dengan lancar. Paketnya pun dapat diberikan kepada penerimanya.
Bisnis Gojek dengan menggunakan sistem call center ini berlangsung selama kurang lebih 4 tahun, hingga akhirnya pada sekitar tahun 2014 Gojek berhasil mendapatkan pendanaan awal (Seri A) yang besar dari investor, sehingga Nadiem mampu membangun aplikasi digital bagi Gojek dan pengembangannya. Sejak era aplikasi digital inilah Gojek kemudian dapat melejit dengan cepat secara eksponensial.


Dikutip dari Bisnis.com, sampai semester pertama tahun 2019, aplikasi dan ekosistem Gojek telah diunduh oleh lebih dari 155 juta pengguna, dengan lebih dari 2 juta mitra pengemudi, dan hampir 400.000 mitra merchant. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Gojek sangat diminati dan memang sangat dibutuhkan oleh ratusan juta masyarakat Indonesia.
Gojek pun telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan raksasa. Berawal dari sebuah perusahaan skala kecil dengan sistem call center, Gojek pun telah menjelma menjadi sebuah perusahaan rintisan (startup) level Decacorn.
Decacorn adalah istilah untuk perusahaan startup swasta yang memiliki nilai valuasi di atas US$10 miliar (sekitar Rp140 triliun ke atas). Istilah ini berasal dari kata “deka” (bahasa Yunani: sepuluh) dan “unicorn”, yang menandakan pertumbuhan pesat dan skala bisnis yang masif.
(Baca juga review buku menarik lainnya : Contagious, Rahasia di Balik Produk dan Gagasan yang Viral)


Dan masih banyak lagi kisah-kisah menarik lainnya perihal Gojek dan kehidupan Nadiem yang diungkap dalam buku “Nadiem Makarim” karya Ardi Darmawan dkk. Anda bisa mendapatkan buku ini di toko buku Gramedia maupun di berbagai Marketplace populer seperti Shopee.
(Dapatkan juga buku digital marketing National Best Seller, disini : Buku Digital Marketing )

Nadiem Makarim adalah Pahlawan lapangan kerja Indonesia. Telah memberikan nafkah dan membuka lapangan kerja bagi jutaan rakyat Indonesia; tukang ojek, warung pecel lele (GoFood) dan lain sebagainya.
Nadiem Makarim sang Bapak tukang ojek Indonesia, dan sekaligus Bapak UMKM Indonesia.
Demikian artikel ulasan mengenai Kisah Inspiratif Nadiem Makarim Membangun Startup Decacorn Gojek, Review Buku “Nadiem Makarim” karya Ardi Darmawan dkk.
Dan sebagai tambahan informasi, jangan lupa kunjungi : Trainer Digital Marketing bagi Anda yang membutuhkan jasa Pembicara/Trainer/Narasumber dalam bidang digital marketing, SEO, hingga AI. Atau hubungi langsung staf Admin (Katarina) via chat WA di 0813 8154 6943.
